RSS

Coretan bulan ke 11 ( berharap X ngarep = ekpresi )

 Hidup itu kompleks. Kompleksitasnya makin menjadi-jadi seiring dengan berjalannya waktu, perputaran nasib seakan-akan berputar bagaikan roda antar manusianya, kalau kita tak pernah berusaha, berjuang untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai kehidupan kita sendiri, maka otomatis kita tersisihkan dari perputaran hidup yang kita harapkan.

Pernah dengar istilah seleksi alam? Seleksi alam ini biasanya untuk hewan dan tumbuhan, tapi kita bisa coba pelajari analoginya untuk kehidupan kita sebagai manusia.

Konsepnya mirip. Bedanya, konteksnya lebih kepada adaptasi diri sendiri, sebagai organisme dengan dinamika psikologi internalnya terhadap dinamika psikologis eksternal yang jumlahnya miliaran manusia, mungkin. Siapa yang bisa tenang, tidak tenggelam dalam distres yang mendalam, ia yang akan selamat, ia akan bertahan, bertumbuh, dan berkembang.


Rasanya cukup menjenuhkan, ya? Hingga tersadar, kejenuhan itu bermula dari buntunya jalan pikiran kita, atau jangan-jangan, memang perasaan kita yang menyempit dan membuat kita seakan "buntu".

Orang awam mungkin langsung menaruh sangka bahwa kita sedang mengaplikasikan "sugesti negatif" ke diri sendiri, dan itu dianggap sebagai tindakan yang merugikan diri sendiri, serendah itu kita dipandang dari satu sisi saja dan mereka seakan tau segalanya. 

Rasanya, semua pikiran dan perasaan membludak. Seakan, aku adalah bom waktu yang berjalan sangat lambat, terlepas dari benar atau salahnya.


Mulanya, aku mencari teman deket yang benar-benar bisa membuatku merasa "ada," atau eksistensi diri yang disadari keberadaannya. Sampai lah di titik aku membutuhkan dan mendapatkan teman-teman yang tulus, mau berteman dan menerimaku dengan konsisten, tanpa pemalsuan ekspresi, maupun tanpa inkonsistensi antara bibir, mata, dan intonasi bicara. They built secure environment for me to stay alive.


Mungkin kamu tak asing dengan ungkapan, bahwa orang tipe pendengar seakan-akan menjadi sosok yang bersedia jadi "tempat sampah" untuk orang lain. Aku sendiri, percaya bahwa masih ada ungkapan kata yang lebih baik dari pada "tempat sampah." 

Begini, kamu tak akan mudah mendapatkan pendengar yang cocok, karena personalitas kamu tak selalu cocok terhadap setiap orang. Bisa disimpulkan sementara, bahwa kita adalah pendengar yang langka, dan kita membutuhkan pendengar yang nyatanya "langka" juga. Sebegitu berharganya dan sama sekali tak patut disebut sebagai "tempat sampah."

Tapi mungkin, aku bisa memahami dari perspektif "mereka" yang menyebut "pendengar" ini sebagai "tempat sampah."


Aku ga tau, benar atau salah, tepat atau tidak, karena ini murni dari hasil observasi dan kontemplasi diri yang cukup dangkal tentang ekspresi diri. 

Berbicara ekspresi, kita mungkin sudah tau, jaman sekarang banyak sekali karya cipta, mulai dari musik, puisi, buku, novel, bahkan projek kerja kita adalah hasil eskpresi kita. 

Secara definisi, ekspresi adalah ungkapan dari gagasan, perasaan, atau sesuatu yang ingin diutarakan, diungkapkan. Bentuknya banyak. Karena ekspresi cenderung mengarah pada apa yang kita pikirkan, rasakan, dan rasanya ingin sekali disampaikan pada orang lain, semacam I wanna show about my discoveries! Let's come to see, please. May be you'll interest on it. 

Dan satu hal yang bisa kamu temukan, kalau kamu peka, dan tentu saja, kalau kamu kuat, kamu akan menemukan sisi lain yang menunjukkan kebutuhannya, semacam pesan lain dari si manusia ekspresif itu. 

Misal, seorang yang eskpresif dalam musik, bisa saja ia ingin mengeluarkan beban negatifnya dengan membuat lirik-lirik lugas dan penyemangat untuk dirinya sendiri, syukur akan jadi manfaat bagi orang lain juga. 

Atau penulis yang membuat tokoh dan karakter yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya, mengkombinasikan harapannnya atas tokohnya, lalu ia membuat teman tokoh utama seperti yang ia harapkan juga. Bisa jadi, ia menyimpan harapan ... ingin menemukan teman seperti karakter pendamping yang diciptakan. Ini misalnya saja.

Ya, ini adalah bentuk ekspresi diri. Tapi, karena curhat cenderung mengikuti aliran perasaan, pikiran yang random, dan tanpa edit sana-sini, kadang membuat seseorang merasa tak enak hati, telah menghabiskan waktu berharga lawan bicaranya dengan ekspresi pikiran dan perasaannya sendiri. 

Apakah benar, mulai dari sini kata "tempat sampah" diberikan untuk pendengar setia? Yang selalu memberikan waktu dan tempat untuk mendengarkan tiap detil ekspresi wicara kita? Karena merasa diri kita sendiri sebagai "pencerita" tidak memiliki hak untuk berekspresi? Dalam rangka mengungkapkan segala bentuk emosi, Apakan ini permulaan dari perasaan minder, dan merasa tidak berharga?

Ya, ini juga catatan pribadi untukku, agar lebih menghargai kebutuhan ekspresi untuk meredakan ketegangan negatif, agar kenegatifan itu menjadi makna, dan sisi positifnya tetap menjadi cahaya untuk siapapun. 

Ekspresi diri itu bebas, tapi aturannya serupa dengan aturan kebebasan yang ada di dalam konstitusi negeri kita, bebas dan bertanggung jawab

Kita ga bisa terlalu fokus dan selamanya memusatkan perhatian pada ekspresi diri, mau yang negatif maupun positif. Meskipun memiliki perasaan negatif dan positif adalah kondisi yang humanis, kita perlu melihat sekitar, apakah ekspresi yang kita niatkan baik juga berefek baik? Secukupnya saja. 

Ingat. Kita diberi kehendak bebas oleh Tuhan dengan tanggung jawab atas apapun yang dihasilkan dari diri kita, yang di sini mungkin termasuk "ekspresi diri." 

Selamat berkontemplasi. :)

AKU MEMILIH MENCINTA

Rasa sakit hadir kala itu
Karena kedekatan yang pernah terasa
Ku tahan kataku agar tak terlempar amarah
Dalam genggaman batin penuh tangisan

Doa terlantunkan dalam untaian tiada akhir
Sadar kelemahan batin ingin membenci
Namun belajar patuh pada Sang Empunya Kehidupan
Pembalasan bukanlah hakku

Mencintai dalam ketulusan bahkan jika harus hingga terluka
Mengasihi dalam kemurnian bahkan ketika tersakiti
Hanya sandar pada Lengan Kekal
Selamanya tak akan sanggup menjalani sendiri

Luka itu telah menganga
Tiada bebat yang mampu mengobati
Tiada ramuan hebat mampu mengurangi sakitnya
Namun cinta terkadang satu-satunya pilihan

Sebagai pembebat batin yang terluka
Sebagai pengurang rasa sakit yang tercipta
Iya jika aku harus yang memilih
Maka aku memilih tetap mencintai

Betapapun luka itu mengiringi karena cinta itu membebaskan dan bukan membelenggu
yang terpenting saling memberi mengasihi bukan saling memiliki.

TERPAAN MASA LALU

Bulan ke Lima

     Hari ini siang menjelang sore serta di temani rintik hujan , Entak mengapa tiba - tiba pikiran tentang mantan menerpa. Menyetel ulang Saat pengkhianatan yang telah di lakukan nya. Mungkin bodohnya saya waktu itu hubungan awal di dasari dengan firasat kurang baik serta ketidak yakinkan, di dalam nya di bumbui dengan Drama - Drama, permasalahan , pertengakaran , mungkin sudah di kategorikan toxsik.

        Waktu tetap harus berjalan dan roda kehidupan harus berputar. Oke hati ini harus lebih baik tentang rencana masa depan dengan hubungan baru yang di jalani saat ini. Hubungan masa lalu di buwat pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Serta saya ucapkan terimakasih telah memberikan tempaan - tempaan pelajaran.

  Untuk hubungan yang sekarang semoga tidak mengecewakan untuk merajut kemasa depan.





Teruntukjenong yang merantau di negara antah berantah.
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Djalall khid All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates